Indonesia vs Malaysia: Kapankah akan tenang??
Semenjak Malaysia menayangkan tari pendet asal Bali dalam iklan priwisatanya, sepertinya kehebohan “curi-mencuri” budaya mulai memanas lagi. Bisa dibilang hampir semua teman dari tanah air menanyakan tentang hal itu pada saya. Bukannya tidak cinta negeri dan budaya sendiri, tapi secara pribadi saya lelah menahan emosi melihat budaya tanah air saya dicuri negara lain, apalagi ini bukan pertama kalinya (loh…kok jadi curhat???
). Setelah ada kejadian seperti ini, semua orang lalu mempertanyakan..siapa yg salah sebenarnya?? Apakah salah pemerintah Indonesia yg tidak tanggap mematenkan kekayaan Indonesia?? Atau memang negara tetangga yg tidak tahu malu??
Saya menemukan sebuah posting menarik dari sebuah milis:
Indonesia adalah The Biggest Archipelago In The World dengan 17.000 pulau lebih, memiliki sekitar 400 etnis dan 700 bahasa lokal. Berapa jumlah hasil “work of art” dari ratusan etnis tsb? Ribuan tarian, ribuan literatur, puluhan juta kerajinan tangan, dlsb. Jika kita harus mempatenkan satu demi satu, bisa dibayangkan berapa biayanya dan saya tidak heran kalo ternyata nanti ada yg ‘kelupaan’ dipatenkan saking banyaknya. Jika harus dipatenkan, maka yang paling tepat yang melakukannya adalah pemerintah daerah. Tapi, apakah pemerintah pusat dan daerah punya dana utk mempatenkan hasil budaya sebanyak itu? Apalagi Indonesia adalah bangsa yang artistik, selalu saja ada hasil budaya yang diciptakan, hingga saat ini pun. Silakan pergi ke STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo dan tanyakan tarian klasik apa saja yg baru diciptakan.
Karena itu, kalau tidak salah UNESCO melarang mempatenkan hasil budaya (CMIIW) untuk menghindari negara yang kaya mencuri dan mempatenkan hasil budaya negara lain yg kebetulan tidak punya uang utk mempatenkan, seperti Malaysia kepada Indonesia. Oleh karena itu, Singapore bisa bebas “memperdagangkan” budaya China & India sebagai komoditi pariwisata, tapi tidak bisa meng-klaim nya sebagai hasil budaya warisan leluhur Singapore.…….
Secara historis, Bali tidak pernah berhasil dikolonisasi Jawa, apalagi menjadi tanah melayu??
…….
[dikutip dari: milis Indobackpacker "Malaysia klaim tari pendet: sikap kita?" (Ms. tari rahardjo) dengan pengubahan seperlunya].
Klo dibilang di Malaysia juga ada budaya Indonesia, mungkin itu dibawa oleh org2 Indonesia yg hijrah kesana dan tetap melestarikan budaya leluhurnya. Klo dibilang Malaysia punya budaya yg mirip Indonesia, rasanya tidak terlalu salah jika yg dimaksud adalah kebudayaan Melayu. Karena pada masa kerajaan-kerajaan dahulu negara kita memang pernah “terhubung” satu sama lain (untuk lebih jelas silakan tanya pakar sejarah, karena sejarah yg saya tahu hanya sebatas pelajaran sejarah di bangku SMA
).
Jadi siapa yg salah??
Rasanya itu adalah pertanyaan retoris yg tidak perlu ditanyakan lagi, karena hanya akan memicu kemarahan warga Indonesia dan menjadi umpan balik bagi rakyat Malaysia untuk memaki balik. Dan setiap orang pasti punya pendapatnya masing2 tentang ini.
Untuk teman2 di Indonesia.. Klo ditanya apakah saya marah melihat budaya negeri saya diambil orang? Well, marah iya…kesal pasti… Saya pernah hampir ribut dengan teman sekamar (yg kebetulan org Malaysia) hanya karena masalah ini. Tapi setelahnya saya pikir apakah kemarahan itu harus ditunjukkan dengan sikap yg tidak baik?? Apakah lantas saya harus memusuhi semua teman2 Malaysia saya?? Rasanya itu akan jadi tindakan yg sangat kekanak2an.. Karena pada kenyataannya tidak sedikit teman2 Malaysia saya yg justru sepaham dengan pikiran kita (org2 Indonesia).
Dan bagi orang2 Malaysia.. Kenapa kalian harus mengungkit2 masalah TKI dalam hal ini?? Bukankah yg sedang dibahas ini masalah budaya?? Jujur, saya sering bingung dan sakit hati klo membaca makian dari org Malaysia di forum2 atau komen2 di youtube. Kalian (org Malaysia) sering memaki org Indonesia mencuri harta org Malaysia dgn datang dan bekerja di Malaysia. Hey, it’s out of topic… Klo mau membahas masalah tenaga kerja jangan dibawah topik bahasan pariwisata donk.. Dan memangnya salah klo org mencari peruntungan di negara lain?? Mungkin dibandingkan dengan org2 Malaysia yg bekerja di luar Malaysia, jumlah tenaga kerja Indonesia akan menjadi jumlah yg fantastis banyaknya. Yah..maaf saja, tapi jumlah penduduk negara kami pun lebih banyak dari warga Malaysia. Jadi mw bagaimana lagi??
[hanya sebuah catatan yg lahir dari sebuah pemikiran..]


