Childhood Memory: Jangan Bergerak ≠ Gak Boleh Napas
It’s just a part of this story..hehehehe… Waktu mikirin judul buat postingan ini, saya rasa itu yg peling tepat meskipun mungkin cuma menggambarkan bagian kecil dari keseluruhan cerita.
Kisah ini terjadi saat saya maih duduk di bangku TK nol besar (hehehe..saya sudah setahun lebih besar dari pada kejadian di pstingan sebelumnya..peserta termuda lomba kaligrafi). Karena pekerjaan ayah yg mengharuskan kami berpindah2 dari satu kota ke kota lain, akhirnya kisah ini mengambil setting di Palembang.
Saat itu kami baru pindah ke rumah kami yg baru di sebuah perumahan di Palembang. Barang2 masih di dalam kardus, lemari2 masih kosong. Hari itu sepulang sekolah (yah..klo TK udah bisa dibilang sekolah..), saya belajar menulis di samping kakak saya yg sedang menyeterika di depan lemari buku. Karena tidak suka dan tidak mau diejek kakak saya hanya gara2 tulisan saya yg jelek, jadi saya memutuskan untuk menyembunyikan buku-belajar-menulis saya. Setelah berpikir cukup keras akhirnya saya menemukan tempat terbaik untuk menyembunyikannya, di atas lemari buku. Karena lemari buku itu cukup tinggi dan kakak saya masih belum cukup tinggi untuk mencapai raknya yg paling atas
. Lokasi sudah ditemukan, saya mulai memanjat lemari buku yg masih kosong itu. Rak pertama, lemari masih stabil. Pijakan saya naik ke rak kedua, (sepertinya) lemari masih stabil dan saya sudah bisa mencapai raknya yg paling atas, tapi.. kenapa harus diletakkan di rak yg paling atas kalau saya bisa menyembunyikan buku itu di ATAS lemari itu. Akhirnya saya putuskan untuk menaruhnya disana, di atas lemari buku, PLUK..[bunyi buku ditaruh]. Ahh legaa..akhirnya kakak saya tidak mungkin lagi menemukan buku itu (akan lebih susah setidaknya). Dan setelah itu saya baru merasa klo lemari itu mulai gak stabil dan miring. Akhirnya lemari itu jatuh, didahului dengan saya yg terbentur dengan cukup keras di atas lantai keramik ruang tamu. Untungnya (begitulah orang Indonesia..dalam keadaan apa pun pasti selalu bisa mengambil untung dari setiap kejadian buruk sekalipun..:D ), saat itu kakak saya sedang menyeterika tepat di depan lemari itu, yah..kira2 satu garis lurus dengan posisi saya jatuh, jadi dy lah yg menahan lemari buku tersebut dari jatuh menimpa saya. Oleh kakak, lemari di”banting” ke samping (yah..mungkin itu ungkapan yg paling tepat untuk menyingkirkan lemari dengan punggungnya sampai terbanting miring). Mendengar suara ribut di ruang tamu (suara lemari terbanting dan..kalau versi ibu saya, suara ‘duk’ saat kepala saya menghantam lantai), akhirnya ibu saya terbangun dan sepertinya mulai panik karena sesaat setelah saya jatuh saya muntah (yg klo kata org2 adalah salah satu tanda gegar otak). Karena saat itu ayah belum pulang dari kantor dan lokasi rumah cukup jauh dari kota, plus seingat saya tidak ada angkot, ibu saya menjadi lebih panik
(bagian cerita yg ini saya kurang ingat sebenarnya, mungkin akibat benturan di kepala saya..
).
Cerita punya cerita, setelah dibawa ke dokter umum akhirnya saya dirujuk ke sebuah Rumah Sakit swasta untuk pemeriksaan lebih lanjut, meliputi rontgen (sebenarnya saya kurang yakin itu rontgen atau bukan, yg saya tau banyak sekali kabel2 yg ditempel di badan saya) untuk melihat apakah saya menderita gegar otak atau tidak. Seingat saya itu lah pertama kali saya masuk Rumah Sakit untuk sebuah pemeriksaan yg lebih dari sekadar “ketemu dokter”. Rumah Sakit tersebut adalah sebuah Rumah Sakit kristen yg sangat bersih (bukan bermaksud rasis..tapi hal yg paling saya ingat dari Rumah Sakit tersebut adalah banyak salib dimana2, bahkan di kamar periksa pun saya melihat lebih dari satu salib di sana). Setelah menempelkan begitu banyak kabel di kepala dan dada saya, suster tersebut bilang, “jangan gerak2 ya..” sambil tersenyum dan meninggalkan ruangan. Saya yg begitu lugu, mengartikan perkataan suster tersebut dengan sangat gamblang. Ketika kita bernapas menggunakan “pernapasan dada” maka rongga dada kita akan bergerak naik-turun bukan? Dan saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan.
Jangan gerak2 berarti tidak boleh ada gerakan sama sekali, dan itu termasuk gerakan dada naik-turun saat kita bernapas (hanya sebuah pemikiran anak TK yg masih lugu
).
Jadi saya memutuskan untuk menahan napas selama pemeriksaan berlangsung. Tapi itu sangat lama..dan kemampuan manusia untuk menahan napas rata2 hanya mencapai 1 menit. Yah..akhirnya saya curi2 juga untuk bernapas..(karena saya masih berpikir bernapas jg dilarang..hahaha). Ketika pemeriksaan selesai, saya agak tersengal2 karena menahan napas cukup lama selama pemeriksaan
. Sedikit merasa bersalah karena saya terpaksa mencuri2 napas sehingga dada saya bergerak naik-turun dan saya harap itu tidak mengganggu hasil pemeriksaan.
Ahahahaha…what a thought, dasar anak kecil…cuma itu yg bisa saya bilang kalau mengingat2 kejadian itu sekarang..
.


