
Eagle Park, Langkawi
Untuk pertama kalinya melakukan perjalanan yg menempuh waktu lebih dari 2 jam sendirian.
Walaupun masih di negara yg sama tapi perjalaan kali ini cukup jauh juga, mengingat tempat yg
akan dikunjungi ada di ujung utara Malaysia, Kedah, lebih tepatnya Universiti Utara Malaysia
(UUM). Alasan utama perjalanan kali ini sebenarnya sama aja ky perjalanan yg sudah2… jalan2
karena merasa mulai bosan dengan keseharian, kebetulan seorang teman dekat akan berulang
tahun saat “kunjungan” tersebut…jadi ya sekalian aja..:D
Cerita perjalanan kali ini dimulai dari seminggu sebelum hari keberangkatan. Sedikit
kepanikan terjadi setelah membeli tiket yg harganya RM45. Teman yg akan jadi “host”
(ceile…:P) bilang klo tiket bus yg dibeli itu bukan tiket bus yg dy anjurkan, hanya karena
ada satu kata yg berbeda dari nama bus yg dy sebutkan (dy menyarankan naik bus Jelita,
sedangkan di tiket bus yg dibeli tertulis Suasana Jelita). Harap dicatat, ada beberapa bus
yg masuk sampai ke UUM. Jadi si kawan cukup menunggu di dekat asramanya ketika sy datang.
Mengingat daerahnya belum pernah dikunjungi dan diperkirakan bus akan sampai sekitar pukul 3
pagi, boleh donk panik. Tapi karena harga tiket yg cukup mahal dan peraturan yg tertulis di
belakang tiket mengatakan klo “tiket yg sudah dibeli tidak boleh ditukar” (yg baru dibaca
terakhir2..), akhirnya sy tetap memberanikan diri walaupun kemungkinannya bakalan bengong
sendirian di tempat pemberhentian subuh2. Eh…ternyata oh ternyata… si teman salah
informasi, “Suasana Jelita” itu nama perusahaannya sementara nama busnya memang “Jelita”.
Jadi intinya sy g salah beli..(fyuuhhhh…).
Hari keberangkatan:
Oh,snap…benda paling penting yg harus dibawa klo jalan2 sendirian ketingalan, handsfree
handphone. Tapi karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 7, yg berarti bus untuk ke
putrajaya sentral sebentar lagi lewat, akhirnya diputuskan untuk tidak kembali mengambil
handsfree. Estafet ke KL…Rapid 429 – KLIA transit – LRT Kelana Jaya..akhirnya sampai jg di
puduraya. Waktu menunjukkan jam 8.15 malam, sementara bus dijadwalkan berangkat jam 9 malam.
Setelah nanya nomor bus ke counter tiket, solat dengan sedikit terburu2, akhirnya keluar
puduraya mencari bus. Pertamanya bingung juga nyari busnya, di tempat yg dimaksud ada satu
bus yg sama tapi nomor platnya beda. Setelah cari punya cari, ternyata bus yg akan dinaiki
parkir di depan hotel Ancasa.
Gak cuma pesawat yg bisa delay, bus jg bisa. Bus yg harusnya berangkat jam 9 malam, baru
berangkat dari puduraya jam 9.15 malam. Udah gitu, pake acara mampir ke hentian Duta untuk
mengambil penumpang lagi. Jadi bisa dibilang, sy baru berangkat meninggalkan KL hampir jam 11
malam. Sepanjang perjalanan dihibur dgn celoteh penumpang2 lain yg kebanyakan adalah anak2
UUM yg akan kembali setelah menghabiskan libur di kampung masing2..(maklum, kebanyakan mereka
adalah org lokal). Berhubung ngantuk, sy memutuskan untuk tidur. Tapi sepertinya rasa waswas
mengalahkan kantuk yg menyerang, jadi akhirnya sy tidur-bangun-tidur sambil terus sms-an
meng-update posisi ke teman.
Sekitar jam 4 pagi bus masuk ke Kedah. Pikiran pertama yg terlintas, suasana kota ini mirip
dgn Meulaboh (kunjungan sy ke Meulaboh waktu lebaran Idul Fitri tahun 2008). Tebakan sy Alor
Setar, ibu kotanya Kedah, tidak jauh berbeda dgn Banda Aceh (dan ternyata teakan sy tidak
meleset..:D).
Setelah mampir sebentar di terminal bus Kedah, Shahab Perdana, akhirnya bus sampai juga di
kampus UUM. Hampir nyasar karena si pakcik supir bus ternyata sama tidak tahunya soal
lingkungan UUM. Untungnya ada abang2 yg turun di perhentian yg (ternyata) sama dgn tujuan sy
(selamat…:D).
Hari pertama:
Karena paginya dateng dini hari dan sedikit terlalu bersemangat bercerita, saya yg kelelahan
akhirnya bangun kesiangan. Baru bangun menjelang jam 10 padahal janji mw ngambil mobil jam
9..:D. Sebenarnya hari pertama kami agak kurang terencana atau tepat over keinginan. Ada yg
mw ke Penang, ada yg mw ke Thailand, ada yg mw ke Langkawi..dan sebenarnya ketiga tempat itu
bisa dicapai dari UUM karena tidak terlalu jauh. Tapi gak 3 tempat dalam satu hari. Akhirnya
setelah mengambil handphone teman di Changlun kami memutuskan untuk pergi ke Perlis (malah
jauh dari rencana semula..:P). Di Perlis mw kemana dan ngapain? No Idea…ahahaha…Itulah
penyakit kami klo udah ngumpul, selalu pergi dengan nekat dan ke tempat yg baru bagi kami
bertiga.
Di tengah perjalanan kami melihat papan petunjuk jalan menuju Gua Kelam. Ayu yg sudah pernah
kesana sebelumnya long long time ago bilang klo Gua Kelam worthed untuk dikunjungi.
Baiklah..destination of the day: Gua Kelam. Jalan punya jalan..kota lewat..pasar
lewat..sekolah lewat..kampung2 lewat..kok blom sampe juga??? Bener gak sih jalannya?? dan
saya punya kekhawatiran yg lain karena jarum penunjuk bensin sudah hampir menyentuh E alias
empty..OH GOD!! Dan sepanjang 500m yg sudah dilewati saya tidak melihat ada tanda2 pom
bensin..[that's why I still love pertamina..mw ditengah sawah jg dy ada klo di Jalinsum]. Gak
lucu donk klo sampe abis bensin di tengah2 utan yg rumah penduduknya jarang2..Mw balik
nanggung, mw terus masih g tw berapa jauh lagi sampe tujuan. Tapi dasar anak2 nekat, kami
tetap meneruskan perjalanan. Gila?? nekat?? ya..begitulah..hehehehe.
Setelah kira 10 menit akhirnya kami menemukan jalan masuk menuju Gua Kelam, hanya saja bensin
di tangki nampaknya tidak mendukung, mungkin bisa sampai ke Gua Kelam tapi gak cukup untuk
balik lagi. Setelah tanya2 dengan penduduk setempat, ternyata beberapa meter dari jalan masuk
ke Gua Kelam ada yg jual bensin ketengan. Itulah pertama kalinya saya beli bensin ketengan di
Malaysia. Tapi tidak seperti penjual2 bensin ketengan di Indonesia yg hampir sebagian besar
menjual bensin campuran, penjual bensin ketengan ini menjual bensin murni yg dy beli di pom
bensin tanpa dicampur apa2. Setelah mengisi tangki mobil dengan bensin yg relatif lebih
mahal, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Kangar, ibukota Perlis. Setelah nyasar kesana
kemari kami malah sampai ke Jeti Kuala Perlis yg melayani jasa penyebrangan menuju Pulau
Langkawi. Satu setengah jam kemudian..Voila!! kami berada di Langkawi

.
Kesan pertama tentang Langkawi sebelum merapat di Jeti Kuah, Langkawi punya laut yg cantik.
Laut berwarna biru muda, sepertinya tempat yg bagus untuk snorkling. Tapi setelah sampai di
salah satu pantai di sana, Cenang Beach, saya agak kecewa melihat air lautnya yg berwarna
coklat susu. Mungkin masih ada bagian lain dari Langkawi yg lebih cantik dan menarik,
sayangnya kami tidak punya cukup waktu untuk fully explore Langkawi. Setelah main2 di pantai,
foto2 di Eagle Park, kami kembali dengan ferry terakhir (pukul 7 malam) ke Kuala Perlis.
Sebenarnya perjalanan hari pertama cukup sampai di situ saja, tapi karena jam belum
menunjukkan pukul 12 akhirnya kami berkeliling kota untuk makan dan menghabiskan waktu,
karena teman2 di UUM sedang mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk teman saya.
Sebelum mengunjungi negeri ini, seorang teman yg terlebih dulu datang memberi tahu klo Alor
Setar termasuk kota tidur, maksudnya kotanya hanya hidup sejak matahari terbit sampai pukul
10 malam tidak seperti kota2 lain di Malaysia (yg pernah saya kunjungi) yg tetap meriah meski
jarum jam sudah menunjukkan dini hari. Dan selama disana, memang demikian keadaan kotanya.
Jalanan mulai sepi setelah pukul 11 malam, dan pada malam hari tidak ada perempuan yg
berkeliaran sendirian tanpa ditemani lelaki. Eits, jangan salah paham dulu..maksudnya disini
kebanyakan perempuan yg keluar malam hari pasti sedang pergi dengan keluarga atau ramai2
berkelompok tapi dalam kelompok itu pasti ada laki2nya. Jadilah selama disana kami sering
diliatin org, karena kami bertiga perempuan semua dan masih jalan2 meski sudah malam, mana pk
acara nyanyi2 di dalam mobil dengan kaca terbuka lagi..:P. Kedah sendiri bisa dibilang
Nanggroe Aceh Darussalamnya Malaysia. Kenapa begitu? karena di negeri yg satu ini hukum Islam
diterapkan secara cukup menyeluruh (CMIIW) dan keadaan kotanya memang mirip dengan Nanggroe
Aceh Darussalam, literally. Klo di sepanjang jalan menuju Banda Aceh terdapat plang2 dengan
nama2 Allah (Asmaul Husna), di sepanjang jalan menuju dan keluar dari Alor Setar, ibu kota
Kedah, terdapat plang2 bertuliskan lafaz zikir. Bahkan di taman2 umum pun ada plang dengan
potongan ayat Quran yg isinya mengingatkan masyarakat bahwa zina itu perbuatan dosa. Selain
itu, berbeda dengan negeri2 lain yg hari liburnya Sabtu-Minggu, Kedah menjadikan hari Jumat
sebagai hari libur menggantikan hari Minggu.
Malam harinya kami merayakan ulang tahun teman saya, Citra. Tidak banyak yg bisa diceritakan
soal perayaan ulang tahunnya. Biasalah..penuh dengan lemparan telur dan tiup lilin serta
bagi2 kue. Yang jelas malam itu dy “dibantai” habis2an sama teman2 kampusnya, bahkan saya jg
terkena lemparan telur saudara2..
Hari Kedua:
Seharusnya saya kembali ke Cyberjaya malam harinya, tapi karena bus yg berangkat dari UUM
sudah penuh dan mempertimbangkan susahnya teman2 mengantar saya klo harus naik bus dari
Changlun atau Alor, akhirnya saya memutuskan untuk pulang esok harinya. Jadi saya masih punya
satu hari lagi untuk meng-explore Alor Setar..horray..!!:D.
Jadilah hari itu setelah berkeliling UUM, mengunjungi taman rusa dan beristirahat sejenak di
library-nya sambil menunggu teman saya selesai kelas, kami pergi berkeliling Alor. Tujuan
hari ini mencari sebuah kuil buddha yg kental dengan motif Thailand, Wat Nikhradaram. Kenapa
saya begitu ngebetnya mencari kuil ini?? jelas bukan untuk beribadah di dalamnya. Hanya
karena seorang teman pernah kesana sebelumnya, dan saya termasuk org yg gak mau kalah sama
org lain. Demi memenuhi ego tersebut kami sampai bela2in googling sebelum jalan, karena
satu2nya info yg kami punya hanya foto teman saya yg diambil di depan kuil tersebut,
sementara dy sendiri sudah lupa dimana tepatnya kuil itu berada. Setelah mencari2 akhirnya
kami menemukan kuil yg dimaksud. Ternyata lokasinya cukup mudah ditemukan, dan kali ini kami
tidak sampai nyasar untuk menemukannya

.
Tidak terlalu banyak info yg saya tahu soal kuil ini. Yang jelas, arsitektur kuil ini memang
mendapat banyak pengaruh dari budaya Thailand, terutama pada zaman kerajaan Siam. Bahkan nama
kuil ini sendiri mendapat pengaruh dari bahasa Thailand, Wat yg berarti kuil dalam bahasa
Thai.
Dari Wat Nikradharam, kami pergi ke Alor Tower. Menara ini adalah bangunan tertinggi yg
pernah dibuat manusia di Alor. Setelah foto2 sebentar, kami pun pergi. Karena belum berniat
untuk pulang, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke daerah Bukit Kayu Hitam. Daerah ini
sebenarnya adalah perbatasan antara Malaysia dan Thailand, cuma karena kami tidak mmbawa
passport niat untuk menyeberang pun urung. Yah, cukuplah dengan pergi ke bundle dan membawa
pulang beberapa baju seharga RM 1 sebuah. Tidak percaya?? tapi memang baju2 disana dijual
seharga itu, karena baju2 yg dijual adalah baju2 sisa ekspor. Jangan melulu berpikir baju
sisa ekspor itu baju bekas yg sudah dipakai org, saya bahkan menemukan beberapa baju masih
ada tagnya. Setelah puas memilih2 akhirnya kami pulang ke UUM, malam itu menu makan malam
kami mihoon rebus

.
Keesokan harinya saya pulang dengan bus Maraliner pukul 10 dari UUM. Setelah 7 jam perjalanan
yg diisi dengan tidur-bangun-tidur akhirnya saya sampai di KL. Kembali estafet seperti waktu
pergi dulu, akhirnya saya sampai dengan selamat di rumah sekitar pukul 8.
Budget perjalanan kali ini:
Bus Cyber-Putrajaya x 2 RM 2.00
ERL Putrajaya-Bdr Tasik Selatan x 2 RM 10.60
LRT Bdr Tasik Selatan-Puduraya x 2 RM 3.40
Bus KL-UUM @ RM 43.50 RM 87.00
Ferry K.Perlis-Langkawi @ RM 18 RM 36.00
Taxi selama di Langkawi RM 24.00
Ongkos jalan2 2 hari RM 70.00
Makan +/- RM 20.00
————-
total RM 253.00
catatan: tidak ada biaya penginapan karena saya menginap di tempat teman.
Untuk pertama kalinya melakukan perjalanan yg menempuh waktu lebih dari 2 jam sendirian.
. Walaupun masih di negara yg sama tapi perjalaan kali ini cukup jauh juga, mengingat tempat yg akan dikunjungi ada di ujung utara Malaysia, Kedah, lebih tepatnya Universiti Utara Malaysia (UUM). Alasan utama perjalanan kali ini sebenarnya sama aja ky perjalanan yg sudah2… jalan2 karena merasa mulai bosan dengan keseharian, kebetulan seorang teman dekat akan berulang tahun saat “kunjungan” tersebut…jadi ya sekalian aja..:D
Cerita perjalanan kali ini dimulai dari seminggu sebelum hari keberangkatan. Sedikit kepanikan terjadi setelah membeli tiket yg harganya RM45. Teman yg akan jadi “host” (ceile…:P) bilang klo tiket bus yg dibeli itu bukan tiket bus yg dy anjurkan, hanya karena ada satu kata yg berbeda dari nama bus yg dy sebutkan (dy menyarankan naik bus Jelita, sedangkan di tiket bus yg dibeli tertulis Suasana Jelita). Harap dicatat, ada beberapa bus yg masuk sampai ke UUM. Jadi si kawan cukup menunggu di dekat asramanya ketika sy datang. Mengingat daerahnya belum pernah dikunjungi dan diperkirakan bus akan sampai sekitar pukul 3 pagi, boleh donk panik. Tapi karena harga tiket yg cukup mahal dan peraturan yg tertulis di belakang tiket mengatakan klo “tiket yg sudah dibeli tidak boleh ditukar” (yg baru dibaca terakhir2..), akhirnya sy tetap memberanikan diri walaupun kemungkinannya bakalan bengong sendirian di tempat pemberhentian subuh2. Eh…ternyata oh ternyata… si teman salah informasi, “Suasana Jelita” itu nama perusahaannya sementara nama busnya memang “Jelita”. Jadi intinya sy g salah beli..(fyuuhhhh…).
Hari keberangkatan:
Oh,snap…benda paling penting yg harus dibawa klo jalan2 sendirian ketingalan, handsfree handphone. Tapi karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 7, yg berarti bus untuk ke putrajaya sentral sebentar lagi lewat, akhirnya diputuskan untuk tidak kembali mengambil handsfree. Estafet ke KL…Rapid 429 – KLIA transit – LRT Kelana Jaya..akhirnya sampai jg di puduraya. Waktu menunjukkan jam 8.15 malam, sementara bus dijadwalkan berangkat jam 9 malam. Setelah nanya nomor bus ke counter tiket, solat dengan sedikit terburu2, akhirnya keluar puduraya mencari bus. Pertamanya bingung juga nyari busnya, di tempat yg dimaksud ada satu bus yg sama tapi nomor platnya beda. Setelah cari punya cari, ternyata bus yg akan dinaiki parkir di depan hotel Ancasa.
Gak cuma pesawat yg bisa delay, bus jg bisa. Bus yg harusnya berangkat jam 9 malam, baru berangkat dari puduraya jam 9.15 malam. Udah gitu, pake acara mampir ke hentian Duta untuk mengambil penumpang lagi. Jadi bisa dibilang, sy baru berangkat meninggalkan KL hampir jam 11 malam. Sepanjang perjalanan dihibur dgn celoteh penumpang2 lain yg kebanyakan adalah anak2 UUM yg akan kembali setelah menghabiskan libur di kampung masing2..(maklum, kebanyakan mereka adalah org lokal). Berhubung ngantuk, sy memutuskan untuk tidur. Tapi sepertinya rasa waswas mengalahkan kantuk yg menyerang, jadi akhirnya sy tidur-bangun-tidur sambil terus sms-an meng-update posisi ke teman. Sekitar jam 4 pagi bus masuk ke Kedah. Pikiran pertama yg terlintas, suasana kota ini mirip dgn Meulaboh (kunjungan sy ke Meulaboh waktu lebaran Idul Fitri tahun 2008). Tebakan sy Alor Setar, ibu kotanya Kedah, tidak jauh berbeda dgn Banda Aceh (dan ternyata tebakan sy tidak meleset..:D). Setelah mampir sebentar di terminal bus Kedah, Shahab Perdana, akhirnya bus sampai juga di kampus UUM. Hampir nyasar karena si pakcik supir bus ternyata sama tidak tahunya soal lingkungan UUM. Untungnya ada abang2 yg turun di perhentian yg (ternyata) sama dgn tujuan sy (selamat…:D).
Hari pertama:
Karena paginya dateng dini hari dan sedikit terlalu bersemangat bercerita, saya yg kelelahan akhirnya bangun kesiangan. Baru bangun menjelang jam 10 padahal janji mw ngambil mobil jam 9..:D. Sebenarnya hari pertama kami agak kurang terencana atau tepat over keinginan. Ada yg mw ke Penang, ada yg mw ke Thailand, ada yg mw ke Langkawi..dan sebenarnya ketiga tempat itu bisa dicapai dari UUM karena tidak terlalu jauh. Tapi gak 3 tempat dalam satu hari. Akhirnya setelah mengambil handphone teman di Changlun kami memutuskan untuk pergi ke Perlis (malah jauh dari rencana semula..:P). Di Perlis mw kemana dan ngapain? No Idea…ahahaha…Itulah penyakit kami klo udah ngumpul, selalu pergi dengan nekat dan ke tempat yg baru bagi kami bertiga. Di tengah perjalanan kami melihat papan petunjuk jalan menuju Gua Kelam. Ayu yg sudah pernah kesana sebelumnya long long time ago bilang klo Gua Kelam worthed untuk dikunjungi. Baiklah..destination of the day: Gua Kelam. Jalan punya jalan..kota lewat..pasar lewat..sekolah lewat..kampung2 lewat..kok blom sampe juga??? Bener gak sih jalannya?? dan saya punya kekhawatiran yg lain karena jarum penunjuk bensin sudah hampir menyentuh E alias empty..OH GOD!! Dan sepanjang 500m yg sudah dilewati saya tidak melihat ada tanda2 pom bensin..[that's why I still love pertamina..mw ditengah sawah jg dy ada klo di Jalinsum]. Gak lucu donk klo sampe abis bensin di tengah2 utan yg rumah penduduknya jarang2..Mau balik nanggung, mau terus masih g tw berapa jauh lagi sampe tujuan. Tapi dasar anak2 nekat, kami tetap meneruskan perjalanan. Gila?? nekat?? ya..begitulah..hehehehe.
Setelah kira 10 menit akhirnya kami menemukan jalan masuk menuju Gua Kelam, hanya saja bensin di tangki nampaknya tidak mendukung, mungkin bisa sampai ke Gua Kelam tapi gak cukup untuk balik lagi. Setelah tanya2 dengan penduduk setempat, ternyata beberapa meter dari jalan masuk ke Gua Kelam ada yg jual bensin ketengan. Itulah pertama kalinya saya beli bensin ketengan di Malaysia. Tapi tidak seperti penjual2 bensin ketengan di Indonesia yg hampir sebagian besar menjual bensin campuran, penjual bensin ketengan ini menjual bensin murni yg dy beli di pom bensin tanpa dicampur apa2. Setelah mengisi tangki mobil dengan bensin yg relatif lebih mahal, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Kangar, ibukota Perlis. Setelah nyasar kesana kemari kami malah sampai ke Jeti Kuala Perlis yg melayani jasa penyebrangan menuju Pulau Langkawi. Satu setengah jam kemudian..Voila!! kami berada di Langkawi
.

Di Pantai Cenang, Langkawi
Kesan pertama tentang Langkawi sebelum merapat di Jeti Kuah, Langkawi punya laut yg cantik. Laut berwarna biru muda, sepertinya tempat yg bagus untuk snorkling. Tapi setelah sampai di salah satu pantai di sana, Cenang Beach, saya agak kecewa melihat air lautnya yg berwarna coklat susu. Mungkin masih ada bagian lain dari Langkawi yg lebih cantik dan menarik, sayangnya kami tidak punya cukup waktu untuk fully explore Langkawi. Setelah main2 di pantai, foto2 di Eagle Park, kami kembali dengan ferry terakhir (pukul 7 malam) ke Kuala Perlis. Sebenarnya perjalanan hari pertama cukup sampai di situ saja, tapi karena jam belum menunjukkan pukul 12 akhirnya kami berkeliling kota untuk makan dan menghabiskan waktu, karena teman2 di UUM sedang mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk teman saya.

Eagle Park, Langkawi
Sebelum mengunjungi negeri ini, seorang teman yg terlebih dulu datang memberi tahu klo Alor Setar termasuk kota tidur, maksudnya kotanya hanya hidup sejak matahari terbit sampai pukul 10 malam tidak seperti kota2 lain di Malaysia (yg pernah saya kunjungi) yg tetap meriah meski jarum jam sudah menunjukkan dini hari. Dan selama disana, memang demikian keadaan kotanya. Jalanan mulai sepi setelah pukul 11 malam, dan pada malam hari tidak ada perempuan yg berkeliaran sendirian tanpa ditemani lelaki. Eits, jangan salah paham dulu..maksudnya disini kebanyakan perempuan yg keluar malam hari pasti sedang pergi dengan keluarga atau ramai2 berkelompok tapi dalam kelompok itu pasti ada laki2nya. Jadilah selama disana kami sering diliatin org, karena kami bertiga perempuan semua dan masih jalan2 meski sudah malam, mana pk acara nyanyi2 di dalam mobil dengan kaca terbuka lagi..:P.
Kedah sendiri bisa dibilang Nanggroe Aceh Darussalamnya Malaysia. Kenapa begitu? karena di negeri yg satu ini hukum Islam diterapkan secara cukup menyeluruh (CMIIW) dan keadaan kotanya memang mirip dengan Nanggroe Aceh Darussalam, literally.
Klo di sepanjang jalan menuju Banda Aceh terdapat plang2 dengan nama2 Allah (Asmaul Husna), di sepanjang jalan menuju dan keluar dari Alor Setar, ibu kota Kedah, terdapat plang2 bertuliskan lafaz zikir. Bahkan di taman2 umum pun ada plang dengan potongan ayat Quran yg isinya mengingatkan masyarakat bahwa zina itu perbuatan dosa. Selain itu, berbeda dengan negeri2 lain yg hari liburnya Sabtu-Minggu, Kedah menjadikan hari Jumat sebagai hari libur menggantikan hari Minggu.
Malam harinya kami merayakan ulang tahun teman saya, Citra. Tidak banyak yg bisa diceritakan soal perayaan ulang tahunnya. Biasalah..penuh dengan lemparan telur dan tiup lilin serta bagi2 kue. Yang jelas malam itu dy “dibantai” habis2an sama teman2 kampusnya, bahkan saya jg terkena lemparan telur saudara2..
Hari Kedua:
Seharusnya saya kembali ke Cyberjaya malam harinya, tapi karena bus yg berangkat dari UUM sudah penuh dan mempertimbangkan susahnya teman2 mengantar saya klo harus naik bus dari Changlun atau Alor, akhirnya saya memutuskan untuk pulang esok harinya. Jadi saya masih punya satu hari lagi untuk meng-explore Alor Setar..horray..!!:D. Jadilah hari itu setelah berkeliling UUM, mengunjungi taman rusa dan beristirahat sejenak di library-nya sambil menunggu teman saya selesai kelas, kami pergi berkeliling Alor. Tujuan hari ini mencari sebuah kuil buddha yg kental dengan motif Thailand, Wat Nikhradaram. Kenapa saya begitu ngebetnya mencari kuil ini?? jelas bukan untuk beribadah di dalamnya. Hanya karena seorang teman pernah kesana sebelumnya, dan saya termasuk org yg gak mau kalah sama org lain. Demi memenuhi ego tersebut kami sampai bela2in googling sebelum jalan, karena satu2nya info yg kami punya hanya foto teman saya yg diambil di depan kuil tersebut, sementara dy sendiri sudah lupa dimana tepatnya kuil itu berada. Setelah mencari2 akhirnya kami menemukan kuil yg dimaksud. Ternyata lokasinya cukup mudah ditemukan, dan kali ini kami tidak sampai nyasar untuk menemukannya
.

Wat Nikradharam
Tidak terlalu banyak info yg saya tahu soal kuil ini. Yang jelas, arsitektur kuil ini memang mendapat banyak pengaruh dari budaya Thailand, terutama pada zaman kerajaan Siam. Bahkan nama kuil ini sendiri mendapat pengaruh dari bahasa Thailand, Wat yg berarti kuil dalam bahasa Thai.
Dari Wat Nikradharam, kami pergi ke Alor Tower. Menara ini adalah bangunan tertinggi yg pernah dibuat manusia di Alor. Setelah foto2 sebentar, kami pun pergi. Karena belum berniat untuk pulang, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke daerah Bukit Kayu Hitam. Daerah ini sebenarnya adalah perbatasan antara Malaysia dan Thailand, cuma karena kami tidak mmbawa passport niat untuk menyeberang pun urung. Yah, cukuplah dengan pergi ke bundle dan membawa pulang beberapa baju seharga RM 1 sebuah. Tidak percaya?? tapi memang baju2 disana dijual seharga itu, karena baju2 yg dijual adalah baju2 sisa ekspor. Jangan melulu berpikir baju sisa ekspor itu baju bekas yg sudah dipakai org, saya bahkan menemukan beberapa baju masih ada tagnya. Setelah puas memilih2 akhirnya kami pulang ke UUM, malam itu menu makan malam kami mihoon rebus
.
Keesokan harinya saya pulang dengan bus Maraliner pukul 10 dari UUM. Setelah 7 jam perjalanan yg diisi dengan tidur-bangun-tidur akhirnya saya sampai di KL. Kembali estafet seperti waktu pergi dulu, akhirnya saya sampai dengan selamat di rumah sekitar pukul 8.
Budget perjalanan kali ini:
Bus Cyber-Putrajaya x 2 RM 2.00
ERL Putrajaya-Bdr Tasik Selatan x 2 RM 10.60
LRT Bdr Tasik Selatan-Puduraya x 2 RM 3.40
Bus KL-UUM @ RM 43.50 RM 87.00
Ferry K.Perlis-Langkawi @ RM 18 RM 36.00
Taxi selama di Langkawi RM 24.00
Ongkos jalan2 2 hari RM 70.00
Makan +/- RM 20.00
———————–
total RM 253.00
catatan: tidak ada biaya penginapan karena saya menginap di tempat teman.