Archive

Archive for November, 2008

Sabang: shortest city I’ve ever visit

November 25, 2008 earth550906 5 comments

Saya hampir lupa menceritakan fenomena ini jika tidak diingatkan oleh seorang teman (Harry Wardana di Tugu NOL Kilometer: the westest point of Indonesia). Well, thank’s to him :D .

Membaca judul posting ini mungkin org akan berpikir, maksudnya???. Okelah, saya akan bercerita tentang perjalanan saya selama lebaran Idul Fitri kemarin ke Aceh dan Pulau Weh (a.k.a Sabang).

Fenomena ini dimulai ketika kami sekeluarga sedang berada di atas kapal ferry ro-ro yg membawa kami menyeberangi selat Banda yg menghubungkan pulau Sumatera dan pulau Weh. Seorang penumpang keturunan Cina asik bertukar cerita dengan ayah saya, dari beliau lah kami mendapat info kalau kotanya kota Sabang itu pendek (kira2 cuma 200m). Maksudnya?? kira2 begitulah reaksi kami waktu itu, masih belum ngeh dengan cerita orang tadi. Begitu kami menginjakkan kaki di Pulau Weh, ketika itu sudah lewat magrib dan langit sudah gelap (mana lampu penerangan jalan dikit..), kami langsung tancap gas menuju kota Sabang yg menurut penuturan bapak tadi kalau di kota banyak penginapan. Berbekal bensin yg cukup kami berusaha mengekori mobil2 lain yg keluar dari kapal ferry, dengan harapan mereka bisa dijadikan petunjuk (terutama sebuah mobil DMX berplat merah yg sangat kami percayai sebagai mobil penduduk setempat). Tapi namanya juga pendatang yg baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Weh, kami tidak tahu kalau jalan di pulau itu berbukit2 alias banyak tanjakan tajam dan berkelok2 meskipun aspalnya sangat halus (jika dibandingkan dengan jalan raya di daerah Sumatera lain yg banyak ranjau darat-nya). Walhasil kami tertinggal jauh di belakang mobil2 lain yg melaju dengan mulus di medan yg sudah lebih mereka kuasai (menurut pemikiran kami waktu itu). Akhirnya berpatokan pada papan petunjuk jalan yg ada kami berusaha mencari arah menuju kota Sabang (perlu di catat, Sabang juga masuk kategori kota dengan petunjuk jalan terlengkap saudara2..!!! :D ). Ketika kami mengikuti papan2 petunjuk jalan, saat itulah kami mulai merasakan keanehan.

Papan petunjuk yg pertama kami lewati tertulis: KOTA  1 KM… wah, udah deket nih…

Papan petunjuk kedua: KOTA  500M… akhirnya ketemu juga…

Lalu kami melewati sebuah jalan lurus yg diapit jejeran ruko, beberapa penjual buah, beberapa penjual makanan, dan sebuah pos polisi (pos lebaran lebih tepatnya).

Papan petunjuk ketiga: KOTA  2 KM… loh, kok makin jauh?? jangan2 nyasar?? udah, ikutin aja..

Papan petunjuk keempat: (lagi-lagi) KOTA  500M… pasang mata, jangan meleng, kali’ ada rambu yg kelewatan… tapi… ini kan jalan yg sama kaya’ yg tadi?? coba ambil belokan yg lain…

Tapi..

Papan petunjuk kelima: KOTA  1 KM… loh, kok???

Dan kami sekali lagi melewati jalan yg sama untuk ketiga kalinya sampai akhirnya kami memutuskan untuk lebih memfokuskan diri mencari penginapan karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB dan kami sudah sangat lelah, meskipun kami masih bingung “dimana sebenarnya kota Sabang berada??”.

Keesokan paginya kami berencana untuk pergi ke tugu NOL kilometer yg berada 29 kilometer dari kota Sabang. “Kalo ketemu papan petunjuk jalan ikutin yg ke Iboih pak..”, demikian pesan pemilik guest house yg kami tempati. Saat itu kami masih penasaran dengan pengalaman kami malam sebelumnya yg tak kunjung menemukan kota Sabang. Sepulang dari Tugu Nol Kilometer kami melalui jalan yg sama yg kami lalui malam sebelumnya (jalan dengan jejeran ruko, beberapa penjual buah, beberapa penjual makanan dan sebuah pos lebaran di kanan-kiri nya). Saat itu ayah saya baru teringat ucapan penumpang kapal yg kemaren asik bercerita dengan beliau, “Sabang itu kotanya kecil aja pak..nggak susah nyari penginapan klo di kota..”. Ternyata yg dimaksud “KOTA” itu adalah jalan tersebut (jalan dengan jejeran ruko, beberapa penjual buah, beberapa penjual makanan dan sebuah pos lebaran di kanan-kiri nya) yg panjangnya kira-kira 200m saja. Di salah satu ujung jalan satu arah tersebut (tepat di persimpangannya) terdapat papan petunjuk jalan, dan di papan itu tertulis “KOTA  2 KM ->”, maksudnya kita harus memutar sejauh 2 km lagi jika ingin kembali ke jalan tersebut.

Oalah… ternyata… hahahaha… Selama perjalanan pulang kami tak henti2nya mengulang2 kejadian tersebut… :D .

Pelajaran:

1. jangan masuk ke sebuah daerah baru malam-malam, bisa membingungkan.

2. jangan menganggap remeh petunjuk atau cerita orang, siapa tau dy penduduk setempat atau org yg sudah pernah ke tempat itu sebelumnya.

3. tidak semua kota itu besar… :P .

Categories: TraVeLLeR's DiaRy Tags: , ,

Tugu NOL Kilometer: the westest point of Indonesia

November 23, 2008 earth550906 3 comments

Tugu Nol Kilometer“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau..Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia..Indonesia tanah airku..aku berjanji padamu..menjunjung tanah airku..tanah airku Indonesia..”

[Dari Sabang sampai Merauke - R.Surarjo]

Mungkin saya bukan satu2nya orang yg pernah memuat tulisan tentang tempat ini. Tapi tetap merupakan sebuah kebanggan pernah menginjakkan kaki di tempat ini (meskipun nggak dapet sertifikat dari dinas pariwisata setempat, karena datang di waktu lebaran ketika semua sedang libur.. :D ).

Tugu yg diresmikan pada 9 September 1997 oleh Bpk. H. Try Sutrisno (wakil presiden Indonesia di masa orde baru) ini terletak di 5o 54’ 21.99” L.U. (lima derajat lima puluh empat menit dua puluh satu koma sembilan sembilan detik lintang utara) dan 95o 12’ 59.02” B.T. (sembilan puluh lima derajat dua belas menit lima puluh sembilan koma nol dua detik bujur timur), 29 kilometer dari ibukota Pulau Weh, Sabang.Tugu Nol Kilometer Sebenarnya titik dimana tugu ini berada bukanlah titik terbarat Indonesia. Namun karena titik terbarat yg sesungguhnya berada di pulau Rondo yg tidak berpenghuni, jadilah titik ini ditetapkan sebagai Titik Nol Indonesia. Dari atas bukit dimana tugu ini berdiri kita bisa melihat Samudera Hindia dan beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Weh (yg ternyata bentuknya benar2 mirip huruf ke-23 daftar alfabet, W).

Namun sayangnya tugu ini nampaknya kurang diperhatikan kelestariannya. Di dinding tugu ini banyak sekali coretan2 para pengunjung yg nakal. Tugu Nol KilometerBahkan plakat peresmian tugu tersebut pun tak luput dari ulah iseng para pengunjung. Mereka menuliskan nama atau apapun itu sebagai “tanda” bahwa mereka pernah kesana. Padahal dinas yg bersangkutan sudah menyiapkan sebuah tempat bagi para pengunjung yg berniat untuk menorehkan jejak disana.

Tulisan sejenis: http://hendrisilaen.blogspot.com/2007/06/titik-nol-indonesia.html