Indonesia vs Malaysia: Kapankah akan tenang??

September 4, 2009 earth550906 Leave a comment

Semenjak Malaysia menayangkan tari pendet asal Bali dalam iklan priwisatanya, sepertinya kehebohan “curi-mencuri” budaya mulai memanas lagi. Bisa dibilang hampir semua teman dari tanah air menanyakan tentang hal itu pada saya. Bukannya tidak cinta negeri dan budaya sendiri, tapi secara pribadi saya lelah menahan emosi melihat budaya tanah air saya dicuri negara lain, apalagi ini bukan pertama kalinya (loh…kok jadi curhat??? :P ).  Setelah ada kejadian seperti ini, semua orang lalu mempertanyakan..siapa yg salah sebenarnya?? Apakah salah pemerintah Indonesia yg tidak tanggap mematenkan kekayaan Indonesia?? Atau memang negara tetangga yg tidak tahu malu??

Saya menemukan sebuah posting menarik dari sebuah milis:

Indonesia adalah The Biggest Archipelago In The World dengan 17.000 pulau lebih, memiliki sekitar 400 etnis dan 700 bahasa lokal. Berapa jumlah hasil “work of art” dari ratusan etnis tsb? Ribuan tarian, ribuan literatur, puluhan juta kerajinan tangan, dlsb. Jika kita harus mempatenkan satu demi satu, bisa dibayangkan berapa biayanya dan saya tidak heran kalo ternyata nanti ada yg ‘kelupaan’ dipatenkan saking banyaknya. Jika harus dipatenkan, maka yang paling tepat yang melakukannya adalah pemerintah daerah. Tapi, apakah pemerintah pusat dan daerah punya dana utk mempatenkan hasil budaya sebanyak itu? Apalagi Indonesia adalah bangsa yang artistik, selalu saja ada hasil budaya yang diciptakan, hingga saat ini pun. Silakan pergi ke STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo dan tanyakan tarian klasik apa saja yg baru diciptakan. 

Karena itu, kalau tidak salah UNESCO melarang mempatenkan hasil budaya (CMIIW) untuk menghindari negara yang kaya mencuri dan mempatenkan hasil budaya negara lain yg kebetulan tidak punya uang utk mempatenkan, seperti Malaysia kepada Indonesia. Oleh karena itu, Singapore bisa bebas “memperdagangkan” budaya China & India sebagai komoditi pariwisata, tapi tidak bisa meng-klaim nya sebagai hasil budaya warisan leluhur Singapore.

…….

Secara historis, Bali tidak pernah berhasil dikolonisasi Jawa, apalagi menjadi tanah melayu??

…….

[dikutip dari: milis Indobackpacker "Malaysia klaim tari pendet: sikap kita?" (Ms. tari rahardjo) dengan pengubahan seperlunya].

Klo dibilang di Malaysia juga ada budaya Indonesia, mungkin itu dibawa oleh org2 Indonesia yg hijrah kesana dan tetap melestarikan budaya leluhurnya. Klo dibilang Malaysia punya budaya yg mirip Indonesia, rasanya tidak terlalu salah jika yg dimaksud adalah kebudayaan Melayu. Karena pada masa kerajaan-kerajaan dahulu negara kita memang pernah “terhubung” satu sama lain (untuk lebih jelas silakan tanya pakar sejarah, karena sejarah yg saya tahu hanya sebatas pelajaran sejarah di bangku SMA :D ).

Jadi siapa yg salah??

Rasanya itu adalah pertanyaan retoris yg tidak perlu ditanyakan lagi, karena hanya akan memicu kemarahan warga Indonesia dan menjadi umpan balik bagi rakyat Malaysia untuk memaki balik. Dan setiap orang pasti punya pendapatnya masing2 tentang ini.

Untuk teman2 di Indonesia.. Klo ditanya apakah saya marah melihat budaya negeri saya diambil orang? Well, marah iya…kesal pasti… Saya pernah hampir ribut dengan teman sekamar (yg kebetulan org Malaysia) hanya karena masalah ini. Tapi setelahnya saya pikir apakah kemarahan itu harus ditunjukkan dengan sikap yg tidak baik?? Apakah lantas saya harus memusuhi semua teman2 Malaysia saya?? Rasanya itu akan jadi tindakan yg sangat kekanak2an.. Karena pada kenyataannya tidak sedikit teman2 Malaysia saya yg justru sepaham dengan pikiran kita (org2 Indonesia).

Dan bagi orang2 Malaysia.. Kenapa kalian harus mengungkit2 masalah TKI dalam hal ini?? Bukankah yg sedang dibahas ini masalah budaya?? Jujur, saya sering bingung dan sakit hati klo membaca makian dari org Malaysia di forum2 atau komen2 di youtube. Kalian (org Malaysia) sering memaki org Indonesia mencuri harta org Malaysia dgn datang dan bekerja di Malaysia. Hey, it’s out of topic… Klo mau membahas masalah tenaga kerja jangan dibawah topik bahasan pariwisata donk.. Dan memangnya salah klo org mencari peruntungan di negara lain?? Mungkin dibandingkan dengan org2 Malaysia yg bekerja di luar Malaysia, jumlah tenaga kerja Indonesia akan menjadi jumlah yg fantastis banyaknya. Yah..maaf saja, tapi jumlah penduduk negara kami pun lebih banyak dari warga Malaysia. Jadi mw bagaimana lagi??

[hanya sebuah catatan yg lahir dari sebuah pemikiran..]

Pulau Perhentian: One nice stop-over

August 22, 2009 earth550906 7 comments
Subuh di Kuala Besut

Subuh di Kuala Besut

“Kerja itu lebih membosankan daripada kuliah (apalagi klo kerjaannya bukan sesuatu yg kita sukai)” (yg terakhir saya tambahin sendiri sih..:D), akhirnya saya merasakan jg bosannya org kerja walopun baru training doank. Mungkin karena kebosanan itu pula teman2 internship (alias PKL) satu kantor merencanakan untuk trip ke Pulau Perhentian, Terengganu (masih di Malaysia). Kenapa pilih kesana? kurang jelas juga sih sebenarnya, yg jelas karena provokasi tentang keindahan laut yg sangat bersemangat oleh salah satu dari kami akhirnya diputuskan kami akan kesana, mengalahkan option lain ke Cameroon Highland. Setelah browsing sana-sini, tanya sana-sini, dan menghitung semua pro dan kontra diputuskan kami akan menginap disana 3 hari 2 malam. Berhubung saya satu2nya org melayu dalam rombongan yg terdiri dari Yaman, Iranian, Kazakhstan, Chinese dan Myanmar(mengingat seorang teman yg Chinese Malaysian tidak begitu fasih bahasa melayu – but hey, i’m a foreigner too!!!) akhirnya saya dinisbatkan secara implicit jadi organizer trip kali ini (Ya Allah..apa lah salah dan dosaku..). Mengorganize 14 org saja sudah cukup sulit tanpa perlu ditambah kenyataan klo mereka semua foreigner yg notabene kadang2 g nyambung sama apa yg kita bilang…fyuuhh… Tapi yah..mw bagaimana lagi..demi kelangsungan trip, akhirnya saya bersedia jadi organizer.

Speed boat buat nyebrang ke Perhentian (kurang lebih lah..)

Speed boat buat nyebrang ke Perhentian (kurang lebih lah..)

Kehebohan sudah terlihat sejak seminggu sebelum keberangkatan, semua berdiskusi tentang barang bawaan yg perlu dibawa dan bekal yg perlu dipersiapkan. Mengingat selera makan mereka tidak sesuai dgn lidah Malaysia, masing2 berinisiatif untuk membawa snack dari rumah. Jadilah tas yg harus mereka bawa pun bertambah jumlahnya. Setelah obrolan heboh dengan teman2 cewek (karena yg cowok relatif kurang “heboh” daripada kita..:P), saya tau klo mereka akan membawa setidaknya dua hand luggage. Di pikiran saya hand luggage yg dimaksud adalah tas jinjing seperti yg biasa dipakai klo kita mw pergi olahraga..tau kan? tas yg petak mirip sosis tapi lebih besar?? itulah dy. Klo itu masih wajar lah, mengingat tempat yg akan kami datangi ini pulau yg mesti nyebrang pk speed boat dan kami pun tidak menginap di hotel berbintang 5. Sampai dengan malam keberangkatan saya masih sangat yakin dengan asumsi saya tersebut, sebelum saya bertemu salah seorg teman yg janjian berangkat bareng dari apartemen. Jujur..saya speechless saking syoknya…ahahaha. Bayangin aja mereka masing2 bawa koper beroda yg gendut2 belum lagi kantong tentengan yg jumlahnya lebih dari dua..(harap dicatat teman saya ini mengajak mama dan teman serumahnya). Sementara saya cuma bawa satu tas ransel dan satu tas selempang kecil berisi handphone dan uang (saja). Speechless kan??

Pukul 9 malam kurang sedikit bus kami tiba di Putrajaya sentral. Setelah bagi2 tiket akhirnya kami naik dan duduk sesuai nomor. Lagi2 terjadi kehebohan. Karena ada dua org teman yg pergi bersama ibunya jadi mereka mw duduk barengan, ada yg minta satu baris dengan kakaknya, duh…heboh lah. Di tengah perjalanan teman2 saya heboh bermain kartu, bahkan berfoto2 di dalam bus, mengingat keadaan dalam bus yg gelap menyebabkan flash kamera aktif, jadilah flash dimana2. Saya sebenarnya agak malu dengan tingkah mereka karena saya tahu penumpang2 yg lain melihat dengan tidak suka ke arah kami, pasti mereka terganggu, tapi saya jg tidak bisa apa2..1 lawan 13, bisa apa saya? Untungnya saya duduk di bagian dekat jendela jadi agak tertutupi sedikit. Ternyata bukan org Indonesia aja yg suka heboh dan kadang2 malu2in, foreigner jg bisa :P .

Terombang-ambing di batas pantai

Terombang-ambing di batas pantai

Selama perjalanan saya habiskan dengan tidur di dalam bus, meski tidak terlalu nyenyak karena celoteh teman2 yg tidak biasa tidur di dalam bus. Yah, maklum saja..saya pernah naik bus dengan jarak dan waktu tempuh yg lebih lama dari ini, jadi sudah terbiasa tidur dimana2 (itu istilah ibu saya sebenarnya..hehehe). G kebayang gimana klo mereka tinggal di Indonesia dan harus naik bus dari Medan ke Lampung yg lamanya 3 hari 3 malam..wekekekeke. Kembali ke cerita perjalanan kali ini. Karena celoteh teman2 yg ramai sesekali saya terbangun dan baru menyadari ternyata jalan yg dilalui tidak sama keadaannya dengan highway penghubung utara-selatan Malaysia. Yang terakhir saya sebut kondisi jalannya lebar dgn aspal yg sangat mulus dan lampu di sepanjang jalan. Sementara jalan menuju Terengganu kondisinya tidak jauh beda dengan jalan lintas Sumatera yg cuma ada 2 jalur dan kondisi aspal yg bergelombang, minus lubang menganga yg sangat parah tentunya.

Akhirnya kami sampai di Jerteh pukul 4 pagi, setelah perjalanan yg memakan waktu kurang lebih 6 jam. Sampai di Jerteh kami harus naik taksi lagi ke Kuala Besut, tempat penyebrangan ke Pupalu Perhentian. Jangan pikir taksi disini taksi resmi dengan argo, yg dimaksud adalah pakcik2 dgn mobil plat hitam yg menyediakan jasa antar ke Kuala Besut, taksi gelap lah untuk singkatnya :D . Setelah berusaha nego, satu taksi RM 30, kami pun berangkat ke Kuala Besut. Cukup 30 menit saja dari Jerteh ke Kuala Besut. Sampai disana pun kami harus menunggu, karena kantor travel agent yg mengurus kami baru buka jam 7. Setelah tunggu punya tunggu akhirnya kami menyeberang jg ke Pulau Perhentian.

Sedikit info yg saya tahu dari wikipedia tentang pulau ini. Sebenarnya Pulau Perhentian ada dua, Pulau Perhentian Besar, tempat kami menginap, dan Pulau Perhentian Kecil. Pulau2 ini diberi nama Perhentian sesuai dengan fungsinya sebagai stop-over alis tempat pemberhentian para pedagang antara Bangkok dan Malaysia. Mungkin seperti tempat singgah sementara sebelum melanjutkan perjalanan.Pulau yg masih termasuk ke dalam daerah Redang Marine Park ini memang punya laut yg sangat cantik jika dibandingkan dengan Langkawi.

Pantai berpasir putih mengundang siapa saja untuk berbaring dan berjemur, gak heran banyak bule yg kesana :D . Air lautnya yg biru bening dan bergradasi jadi biru gelap di daerah yg lebih dalam mengundang para pecinta snorkling dan para penyelam untuk menikmati keindahan alam laut pulau ini. Bahkan saya yg baru pertama kali mencoba snorkling pun jadi ketagihan..hehehe..:D.

Hari pertama di Pulau kami habiskan dengan snorkling setelah makan siang. Sayang sekali kami terpaksa menunda kegiatan mengasikkan itu beberapa jam karena harus membawa seorang teman yg tangannya terluka terkena besi kapal ke klinik (kejadian ini murni karena kesalahannya sendiri yg tidak mematuhi arahan guide kami yg menyuruh turun lewat tangga dari belakang kapal). Setelah menerima 7 jahitan di jari tangannya, kami kembali meneruskan snorkling tapi teman saya itu tidak bisa ikut terjun ke laut. Malamnya jalan2 di pantai sejenak setelah makan malam sebelum akhirnya tidur karena kelelahan.

Bersama ikan-ikan

Bersama ikan-ikan

First time snorkling

First time snorkling

Hari kedua tidak jauh berbeda dengan hari pertama. Snorkling di pagi hari sampai jam makan siang (malah kelewatan karena keasikan snorkling..:D), makan siang dengan lahap (khususnya saya karena yg lain tidak terlalu sesuai dengan makanan yg tersedia :P ) dan setelah itu bermain voli pantai dengan gembira sebelum jalan2 membelah pantai yg mengering dan bernarsis ria di batas pantai..:D. Malamnya kami menikmati BBQ dinner. Malam itu saya kenyang berlebihan, hehehehe. Penyebab utamanya mungkin karena saya makan cumi bakar terlalu banyak. Yah, mau gimana lagi..sebagian besar teman2 saya yg foreigner tidak menyukai hewan laut yg satu ini (kasian mereka g tw makanan enak..:P) dan semuanya menyumbangkan cumi bakarnya ke piring saya :P . I’m sorry for my attitude..bukan berarti saya rakus, tapi semenjak tinggal di Malaysia saya susah sekali menemukan seafood, klo pun ada harganya mahal sekali. Jadilah malam itu saya pesta cumi bakar…hahahaha. Bahkan seorang penduduk setempat (bapak2 tua, seorang scuba diver berkebangsaan Amerika yg lahir di Indonesia dan membesar di Amerika tapi memilih tinggal di Pulau) berkata, “you really know how to eat..” :P .

Hari ketiga, paginya setelah teman2 mengubur saya di pantai, kami pergi main kayak. Hanya saja saya dan seorg teman yg jadi pasangan main kayak saya tidak terlalu kuat mendayung membelah laut, akhirnya kami hanya berputar2 tidak terlalu jauh dari pantai tempat kami menginap (what a shame..). Siangnya setelah puas bermain, sambil menunggu kapal yg menjemput kami kembali ke Kuala Besut (karena malamnya kami akan bertolak kembali ke Cyber) saya tertidur di pantai yg berpasir putih. Ternyata rasanya sangat nikmat saudara2..Tidak heran klo bule2 itu suka tidur2an di pantai. Rasanya seolah2 hidup ini g ada beban (It’s the best way to enjoy life though :D ). Setelah kembali ke Kuala Besut kami menanti bus yg akan kami naiki pukul 8.30 malam. Dan ketika sampai di Putrajaya Sentral pukul 5 pagi esoknya, perjalanan kali ini pun selesai lah sudah :D .

Selama perjalanan kali ini banyak hal yg saya temukan dan pelajari.

1. Ternyata g cuma org India yg suka menari, org Iran pun g kalah semangatnya klo soal tari-meanari. Selama perjalan hampir setiap saat teman saya yg org Iran mengajak kami menari :P .

2. Pantai, Pulau, Laut, Gunung adalah tempat terbaik untuk menikmati hidup. Saya merasa baterai hidup saya terisi kembali di tempat ini :) .

3. Meskipun jauh dari peralatan elektronik, gemerlap mall, tapi penduduk di Pulau hidup gembira tanpa beban dan itu yg mereka tularkan pada saya. Satu hal yg tidak bisa ditemukan di kota, kebersamaan.

4. Semakin ter-explore suatu tempat semakin hilang keindahan alaminya. Hal ini diucapkan seorang bapak2 (scuba diver berkebangsaan Amerika yg lahir di Indonesia dan membesar di Amerika tapi memilih tinggal di Pulau) kepada saya.

5. Ternyata masih banyak org yg kurang paham soal konsep jilbab dalam Islam. Di hari ketiga, ada seorg tamu dari China yg bertanya kepada saya tentang jilbab dan pakaian yg saya kenakan (karena saya tetap memakai jilbab dan baju tertutup, di saat bule2 hanya mengenakan bikini dan berjemur di pantai). Dy berpikir saya merasa terkungkung dgn aturan agama saya. Padahal sisi positifnya saya jadi terhindar dari sunburn dan kulit gelap terbakar matahari (well, g semua sih..pergelangan kaki dan tangan serta wajah saya jadi belang.. :P ).

Mr. Fritz Leung, friendly (half-crazy :P) scuba diver

Mr. Fritz Leung, friendly (half-crazy :P ) scuba diver

Bg Nasir, snorkling guide yg lucu dan iseng

Bg Nasir, snorkling guide yg lucu dan iseng

Budget perjalanan kali ini:

Bus Cyber-Putrajaya     RM      1.00

Bus Putrajaya-Jerteh, Kuala Besut-Putrajaya     RM   91.00

Taxi Jerteh- Kuala Besut RM 90/14     RM      6.50

Biaya paket perjalanan termasuk:

- penginapan 3 hari 2 malam

- 5 kali makan + 1 BBQ dinner

- biaya speed boat transfer PP

- tiket Marine Park

- paket snorkling 2 kali

- Guide tour yg ramah dan iseng :P

- air minum 3 liter     RM 300.00

Sewa kayak per jam     RM     15.00

Makan siang (extra)     RM    10.00

Taxi Putrajaya-Cyber(lebih mahal karena subuh2)     RM    16.50

Total     RM 440.00

Catatan:

Trip kali ini terpaksa mengambil paket mengingat banyaknya peserta dan kesulitan yg akan dihadapi klo ngeteng. Kynya biaya yg diperlukan klo g pk paket bisa lebih murah.